Home > Uncategorized > Rintisan sekolah bertaraf internasional

Rintisan sekolah bertaraf internasional

RSBI: Rintisan Mengubah Paradigma

Posted by: Ahmad Rizali In: Catatan| Pendidikan| RSBI

Lebih dari dua jam tanpa berkomentar, kecuali bertanya, saya ikut rapat dengan 2 senior officer dari sebuah Foundation yang membantu beberapa SMAN terpilih menjalankan Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional (RSBI) dengan mengadopsi program IGCSE (level O) dari UK. 2 konsultan senior expatriat dari UK yang sangat mengenal bagaimana level O dipraktekkan baik dinegerinya maupun di asia dan manta direktur sekolah Internasional serta seorang expat USA mantan direktur sekolah Internasional, intensif berdiskusi, apakah IGCSE bisa dijalankan di SMAN tersebut.

Ketika mengunjungi Denpasar mereka menemukan kebingungan dari guru disana, karena otoritas depdiknas yg menyelia sekolah itu untuk urusan RSBI berpatokan kepada panduan RSBI Tahun 2007 yg diterbitkan mendiknas. Penyelia itu menginginkan agar KTSP dan Kurikulum IGCSE (Cambride) dibedah dan diaduk menjadi satu. Khas KTSP, irisan dan khas Cambridge harus diajarkan. Basis penyelia itu adalah, KTSP first, Cambridge to enrich !

Dia tidak salah, karena selama sekolah itu masih berada di Indonesia dan bukan sekolah Internasional, makan diwajibkan oleh UU Sisdiknas mempraktekkan kurikulum yang disebut Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) yang diterbitkan oleh BSNP dengan penyeliaan Pusat Kurikulum.

Ketiga expat itu puyeng dan salah satu dari mereka berkata setelah bertemu otoritas kurikulum di Jakarta, “Terlalu berat dan tidak mungkin mereka bisa lulus ujian level O, jika anda mengaduk dua kurikulum itu dan mengajarkannya sekaligus, karena pada dasarnya, meski umumnya isinya tidak banyak berbeda, tetapi cara penyampaian berbeda”. Bahkan, penyampaian dalam bahasa Inggris adalah mutlak, selain seringkali harus kontektual untuk negerinya.

Saya berpendapat, pelaksanaan RSBI adalah masalah mengubah paradigma. Mengubah paradigma adalah ibarat mengubah OS (operating system) sebuah komputer. Bagaimana mungkin sebuah paradigma mengajar yg berpusat kepada guru dan deterministik (misalnya windows unt PC), menjalankan sebuah kurikulum dengan paradigma berpusat kepada murid, mengutamakan proses dan underministik (misalnya aplikasi telepon seluler).

Deterministik dalam konteks tulisan ini adalah sebuah paradigma, hitam-putih, salah-benar, tertentu-tidak tentu atau ON-OFF, biner. Singkat kata, harus ada yg didetermine, ditentukan. Oleh sebab itu, semua tes yg menggunakan pendekatan deterministik adalah salah dan benar serta lebih mengutamakan isi. Proses adalah hanya alat untuk menuju hasil yg deterministik/ditentukan itu.

Sedangkan paradigma IGCSE adalah pendidikan yg sudah berpusat kpd guru, mengutamakan proses dan membentuk cara menalar, tidak penting apakah hasilnya benar atau salah. Meskipun ada pula proses salah benar, tetapi tidak dominan.

Bayangkan sulitnya mengajarkan pelajaran dengan cara diskusi, ketika sejak PAUD, guru sudah mengajarkan bahwa mewarnai kulit gajah itu abu2, belang zebra itu hitam putih, pemandangan itu sudah ditetapkan 2 gunung dengan matahari ditengah dan didepannya ada sawah dan ditengah sawah ada jalan raya dihiasi tiang listrik. Ketika SD, metode pembelajaran tidak berubah, bahkan hingga Perguruan Tinggi, tidak ada sebuah proses menemukan dan belajar mengkonstruksi dengan bimbingan guru.

Mengajarkan IGCSE dengan paradigma seperti itu adalah seperti memasang program aplikasi di OS yg tdk sepenuhnya kompatibel. Sehingga, ketika “succesfully installed” tidak dijamin bisa dipakai. Kurikulum IGCSE “seakan2 berjalan” dengan baik, namun kenyataannya tidak berjalan sebagaimana mestinya dan dijamin bisa berkelanjutan.

Selain mengubah paradigma yang pas, penguasaan esensi materi mata pelajaran dan penguasaan bahasa Inggris juga menjadi kunci. Esensi mata pelajaran mungkin tidak bermasalah karena guru bisa dipilih dengan baik, namun, mencari guru dengan dua kemampuan tersebut sekaligus sungguh sulit.?Sehingga dapat dipastikan, dengan miskin metodologi mengajar yg mendorong murid aktif dan rendahnya skill berbahasa Inggris, target lulus ujian IGCSE atau CIE sulit dicapai.

Usai rapat, konsultan ahli IGCSE itu membaca muka saya yang terlihat cemas dan berkata ” Anda terlihat cemas…”, saya hanya mengiyakan dan menimpali “Betul, karena bukan perkara mudah mencakokkan kurikulum IGCSE kepada guru yang melaksanakan KTSP saja belum mampu,…”. Dia hanya tersenyum dan berkata “Iya, tetapi kita toh harus memulai” dan saya jawab ” Betul, ceburkan saja semua guru ke praktek langsung bagaimana kurikulum IGCSE diajarkan, agar mereka semua langsung praktek tanpa kebanyakan teori, sembari mengubah paradigma berfikirnya”.

Ketika keluar dari ruang rapat saya tercenung, sungguh besar PR pendidikan di negeri ini, produk deterministik adalah anak bangsa yang sulit menerima keberagaman, karena cara berfikir dengan paradigma yang seragam atau ON-OFF dan semuanya hanya bisa selesai jika ada reformasi Pendidikan Guru dan konsisten dilakukan. Sertifikasi saja, yang merupakan program ambisius pemerintah, tidak mampu menjawab PR ini, apalagi jika pendidikan profesinya masih seperti dulu, melulu dijejali teori dan prakteknya tanpa pendamping dan penyeliaan best practice. Pantas saja pak Satria bilang ” RSBI itu subject to failure,…”. Pendapat yang lugas, tetapi mendekati kebenaran,…

Depok
14/10/08
Nanang

Categories: Uncategorized
  1. Indah Muslichatun, S.Pd
    July 22, 2009 at 5:50 am

    Yes, I agree with you. It is very difficult to change the paradigm of our teachers, especially in making the students love learning and know how to learn. We, the teachers often blame the students if they get bad mark. We never do a kind of introspection of how good we teach them. Another problem is our curriculum is so hard for the students. I mean, Indonesian students are forced to learn many subjects, ignoring how good they can master it well. RSBI is a challenge for us. It can make us better as long as we have good commitment to improve ourselves- the teachers, especially. I believe that if the teachers are good and inspiring, and they love their profession, they love the students, they will produce good students as well. keep your spirit, teachers. The change of our country is in your hands!

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: