This is an example of a WordPress page, you could edit this to put information about yourself or your site so readers know where you are coming from. You can create as many pages like this one or sub-pages as you like and manage all of your content inside of WordPress.




Hi GURU MANA TU yang meng hina ORANG sama orang miskin ,,,,emang lu lahir langsung S1 dan kaya, ,emanyA SMA 1 Pekalongan itu apa ,inget ya …
kamu besar dari alumi
KAMI malu dengan berita ini ,,SMA 1 Pekalongan ga ada HATI
6 Oktober 2008
Dipermalukan Guru, Siswi Memilih Keluar Sekolah
PEKALONGAN – Andini Eki Mulyasari (15), siswi tidak mampu SMKN 1 Kota Pekalongan memutuskan keluar sekolah setelah dipermalukan oleh salah seorang guru.
Eki, panggilan siswi yang tinggal di Kelurahan Bendan, Pekalongan Barat itu ditolak oleh pihak sekolah karena tak membayar uang masuk.
Namun, ia bisa diterima karena mendapat perhatian khusus dari Wali Kota HM Basyir Ahmad.
Namun, Eki merasa trauma untuk melanjutkan sekolah.
Bahkan, ia tidak bersedia sekolah, meski di sekolah lain.
Meski sudah ada yang akan memfasilitasi atau mendapatkan beasiswa dari Pemkot Pekalongan.
Ketika ditemui Suara Merdeka kemarin, ia masih terlihat trauma. Pertanyaan wartawan dan anggota DPRD dijawab sepotong-potong.
”Saya sudah tidak mau sekolah karena disindir seorang guru. Katanya sekolah kok maunya gratis dan tidak dianggap sebagai siswa. Saya juga tidak mau sekolah lagi karena malu, nanti pasti diejek, mending bantuin mama saja,” katanya.
Usai mengunjungi Eki, anggota Dewan yang terdiri Ketua Komisi III Bidang Pendidikan Ismet Inonu SH dan anggotanya Bambang Ismunarto SH serta dari Fraksi Amanat Nasional (FAN) M Basri Budi Utomo melakukan sidak ke SMKN 1.
Rombongan Dewan ditemui Kepala Sekolah Drs Suharso Saleh. Dalam kesempatan itu, keluarnya siswa tak mampu dipertanyakan.
Kepala sekolah juga diminta untuk memulihkan kondisi psikis Eki dan melakukan pembinaan terhadap guru bersangkutan lantaran sikapnya tidak mendidik.
”Siswa merasa malu karena sudah dinistakan guru, kemudian keluar sekolah. Jadi kepala sekolah harus bertanggungjawab agar siswa bisa sekolah lagi. Sebab berbagai upaya yang sudah ditawarkan tidak berhasil karena trauma,” ungkap Ismet.
Basri menegaskan, jika upaya sekolah tidak berhasil, maka merupakan bukti kegagalan pihak SMKN 1 dalam melaksanakan program pendidikan di Kota Pekalongan.
”Kalau perlu sekolah datang ke rumah siswa untuk membujuk agar tidak keluar. Kalau itu berhasil berarti sebuah keberhasilan sekolah dan semua pihak di sekolah dibina supaya baik dalam bersikap. Ini juga berlaku bagi semua sekolah,” tegas dia.
Menanggapi hal itu, Suharso Saleh mengatakan, pihaknya sudah berupaya menerima siswa. Masalah belajar diurusi wali kelas, bagian jurusan dan BP kemudian dilaporkan kepadanya.
”Kalau sekolah lain mungkin tidak bisa menerima karena institusi sudah dihina dengan pemberitaan media pada awal masalah ini. Kami juga melakukan pembinaan guru dan telah mengunjungi rumah siswa,”tegasnya. (H52, H4-61)
kkk
kayaknya salah kamar nih… tu kan SMKN 1, bukan SMA 1…. tapi makasih dah kasih infonya….
semoga itu tak terjadi di SMA N ! Tercintaa…
Hal kecil gni ngapain sih diributin, ngurusin anak yg udh gk niat sekolah,masi byk anak2 yg pgn sekolah dluar sana,itu aja yg di urusin pak dewan..
Kesan nya membesar besarkan hal yg kecil..pdhl masi byk hal penting yg luput dr perhatian pemerintah.
Berita nya ada gk yg lbh lengkap?
Mimpi kita…..
Suatu hari di pagi hari yg agak mendung….29 februari berlangsung kegiatan audit eksternal oleh badan akreditasi audit sebagai langkah awal menuju tercapainya penjaminan mutu sekolah, kegiatan ini dijadwalkan berlangsung dari pukul 08.00 sampai pukuk 17.30 Wib. hampir semua komponen sekolah terlibat dalam pelaksanaan kegiatan ini, Kepala Sekolah, Guru dan dan tenaga kependidikan di sekolah mecoba untuk mengupayakan semangat dari ISO “menulis apa yang dikerjakan” dan “mengerjakan apa yang ditulis”. Di samping sebagai upaya dan usaha untuk meningkatkan mutu pelayanan sekolah terhadap masyarakat, kegiatan ini juga dimaksudkan untuk meningkatkan keprofesionalan guru sebagai komponen penting sekolah terlebih SMA 1 Pekalongan yang sedang “on the road” menuju Sekolah Bertaraf Internasional.
Emmm…tpi mang kita ON THE ROAD…kita memang di jalan.,tpi kita tidak bergerak….